MADING ONLINE KELOMPOK 3
PENGANTAR REDAKSI
Pembaca
yang berbahagia, pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur atas kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmatnya majalah online ini dapat diselesaikan
di waktu yang tepat.
Di
majalah online ini, kami memuat rubrik-rubrik khusus untuk anak-anak mulai dari
dongeng, cerita pendek, puisi, naskah drama dan artikel ensiklopedia yang
menarik untuk dibaca.
Semoga
majalah online ini dapat memberikan motivasi untuk para pembaca untuk berkarya
dalam tulisan. Semoga generasi muda seperti kamu, iya kamu..... dapat menjadi
orang yang selalu memiliki kreativitas
Dan
tak lupa kami juga mengarapkan kritik dan saran dari para pembaca demi kemajuan
majalah online kami.
Demikian
yang dapat kami sampaikan, selamat membaca.
Jangan
lupa stay safe and stay healthy
SALAM KAMI
Tim Redaksi
PUISI ANAK
Keluargaku
(Karya Miftahul Jannah)
Keluarga
sebagai pelindungku
Aku sangat
sayang ibuku
Aku sayang
ayahku
Aku juga sayang
adik-adikku
Merekalah
keluargaku, milikku seutuhnya
Sangat bahagia
bisa memilikinya
Selalu ada
dalam suka dan duka
Kami selalu
saling melengkapi
Jangan pisahkan
kami, Tuhan
Ayah Ibu
(karya Miftahul Jannah)
Biarkan aku
menulis puisi
Tentang dirimu
Ayah ibuku..
hatiku begitu
bahagia
Mengenangkan
segalanya.
Bahwa aku
mempunyai seorang ibu
Yang selalu
memperhatikan diriku.
Aku punya
seorang ayah
Yang tiada
berhenti berjuang
Agar kami semua
bahagia.
Setiap
pengorbanan
Setiap
perjuangan
Tidak akan kami
sia-siakan.
Guruku
(karya Miftahul Jannah)
Awal ku masuk
kelas
Kaku, bingung,
dan takut
Namun, kau
memberiku senyum semangat yang membuatku bangkit
Belajar
denganmu aku jadi mudah mengerti
Kau tak pernah
letih membimbingku
Ilmu yang kau
ajarkan padaku
Amatlah berguna
dan bermanfaat
Tak pernah
letih kau membimbingku
Jasamu akan
selalu kubawa
Namamu akan
selalu terukir di benakku
Kaulah pahlawan
yang menerangi mimpiku
Ceritaku
(karya Miftahul Jannah)
Tiada yang
lebih indah dari pada
Bangun pagi
Bersiap ke
sekolah
Bertemu guru
dan juga kawan
Belajar demi
meraih mimpi
Pak dan Ibu
guru
Maaf jikaku
sering buat susah
Terima kasih
karena selalu sabar membimbingku
Terima kasih
karena telah menjadi kendaraan kesuksesan
Alamku hijau berseri
(karya Tri Mulyani)
Awan putih gang
indah
Hutan hijau
yang menawan
Teduhnya beringin
tua yang rindang
Burung-burung
berkicau riang
Suara air
jernih terus mengalir
Guruku
(karya Tri Mulyani)
Kau ajarkan
kami menulis
Kau ajarkan
kami membaca
Kau ajarkan
kami ilmu
Agar kami
menjadi yang berguna
Terima kasih
guruku
Jasamu akan selalu
dihatiku
Desaku
(karya Milati Kamila)
Matahari pagi
yang berseri
Udara sejuk
selalu menyapa di pagi hari
Sawah yang luas
Padi yang mulai
menghijau
Disitulah
Desaku
Dimana penduduk
desa mencari makan
Tempat aku
dilahirkan
Desa kecil yang
indah
Desa yang ku
cinta
Desaku yang
permai
Sekolahku
(karya Ati Dinan Nasihah)
Sekolahku
Tempatku
merangkai masa depanku
Tempatku
bertemu pahlawan tanpa tanda jasaku
Tempatku
bertemu dengan kawanku
Sekolahku
Hijau taman
yang menghiasi setiap sudut sekolah
Semilir angin
yang menambah kesejukan
Deretan kelas
berwarna menambah indah tentangmu
Sekolahku
Syukurku dalam
kalbu
Menggapai cita
dirumah keduaku
Tempat terindah
tuk para penuntut ilmu
Kampung halamanku
(karya Ati Dinan Nasihah)
Hamparan sawah
yang hijau
Deretan
perbukitan yang menghiasimu
Gemercik air
yang begitu menenangkan
Kicauan burung
dipagi hari menambah asrinya kampungku
Sungguh indah
kampung halamanku
Tempatku
tinggal dan bermain dengan alam
Tempatku
menghabiskan masa kecilku
Keindahanmu kan
kujaga untuk penerus negeri
Kelas Membaca
(karya Fitrotul Faizah)
Lekas buka
bukumu
Mari tulis
sepuluh paragraf
Dan bacakan
kepada rekan sebelahmu
Kalau mereka
suka maka berbanggalah
Kalau mereka
bosan maka belajarlah
Untuk tidak
hilang asa dan
Terus mencari
kurangmu
CERPEN ANAK
Terima Kasih, Bu Guru.
(Karya Citra Ayu)
“Selamat
pagi anak-anak?”
“Selamat
pagi Bu Guru...” jawab kompak satu kelas
Bu
Rani tersenyum melihat semua murid kelas 2 kompak menjawab sapaannya dengan
wajah yang ceria, Bu Rani pun menaruh perlengkapan mengajarnya di meja.
“Hari
ini kita akan melanjutkan materi kemarin ya anak-anak, oh iya kemarin kan ibu
kasih PR matematika, sekarang dikumpulin di meja ya” ucap Bu Rani
Jojo
yang tidak mengerjakan PR nya pun sudah ketakutan di meja nya, apalagi melihat
teman-temannya ternyata mengerjakan PR semua kecuali dirinya.
“Kamu
kenapa Jo?” tanya Rio yang duduk di belakang Jojo
“A-aku
enggak ngerjain PR” balas Jojo menundukan kepalanya
Rendi
yang duduk sebangku dengan Rio, langsung berteriak “Bu Guru, Jojo tidak
mengerjakan PR!”
Bu
Rani yang sedang menulis di papan tulis pun menengok ke arah murid yang
memanggil nya, sedangkan Jojo sudah takut dimarahi karena tidak mengerjakan PR.
Sebenarnya Jojo bukan nya lupa atau tidak mau mengerjakan, hanya saja dirinya
memang tidak bisa mengerjakan PR tersebut. Bu Rani pun menghampiri meja Jojo,
Jojo sudah pasrah jika dirinya akan dimarahi.
“Jojo
kenapa tidak mengerjakan PR?” tanya Bu Rani
“Saya
tidak paham caranya Bu Guru” jawab Jojo jujur
“JOJO
KAN BODOH,” teriak Budi membuat beberapa teman yang lain tertawa
Jojo
sudah ingin menangis karena di tertawakan oleh teman-temannya.
“Budi
kamu tidak boleh seperti itu, kalau ada teman kita yang belum bisa harusnya
kita bantu bukan malah mentertawakannya. Sikap seperti itu tidak baik”
Budi
lalu berjalan ke arah Jojo, Budi menyalurkan tangannya untuk meminta maaf.
“Jojo
aku minta maaf ya”
Jojo
pun membalas uluran tangan Budi, Bu Rani tersenyum senang melihat kelakuan
muridnya.
“Anak-anak
kalian menulis materi yang ada di papan tulis dulu ya, ibu akan bantu Jojo
dulu”
“Baik,
Bu Guru...” jawab kompak sekelas
Bu
Rani lalu duduk di sebelah Jojo, melihat buku Jojo yang masih terdapat soal
yang belum dikerjakan.
“Jadi
Jojo belum bisa pembagian?”
Jojo
hanya menganggukkan kepalanya.
“Sebenarnya
saya juga belum bisa perkalian Bu Guru”
“Kalau
seperti itu, ibu akan bantu kamu agar bisa perkalian terlebih dahulu” jawab Bu
Rani
“Tapi
kan saya bodoh, Bu Guru” ucap Jojo yang sudah menangis
“Kata
siapa Jojo bodoh, Jojo hanya belum bisa saja nanti pasti Jojo bisa kok, ibu
akan bantu Jojo sampai bisa pokoknya” ucap Bu Rani memberi muridnya itu
semangat.
Walaupun
membutuhkan waktu seminggunan lebih, Bu Rani mengajari Jojo dengan sabar dan
pelan, perlahan Jojo akhirnya paham dan sudah bisa perkalian, Jojo bahkan
sangat bersemangat untuk bisa paham tentang pembagian.
“Akhirnya
Jojo bisa juga kan? Jangan patah semangat ibu akan bantu Jojo sampai pintar
pokoknya” ucap Bu Rani
“Iya
Bu Guru, ternyata perkalian tidak sesusah yang dibayangkan. Terima kasih, Bu
Guru”
Guru Galak
(Karya Ani Khofifah)
Dipagi hari seperti hari biasanya ani dan teman-temannya berangkat
sekolah pagi hari. Mereka berangkat ke sekolah dengan jalan kaki. Suka ria
mereka lalui melalui jalan kaki tersebut menjadi media untuk bergurau dan
bercerita antara satu dengan yang lainnya.
Ani : “Nad, kamu udah ngerjain PR dari bu Nida belum?” tanya Ani
dengan sedikit cemas
Nadia : “Eh, Ngada-ngada aja kamu emang ada PR” (nadia dengan
santainya menjawab)
Rio : “anak perempuan kok ngga rajin sih nad” (gumam rio dengan
tatapan sinisnya)
Ani adalah anak yang cukup cerdas, ia selalu mendapat peringkat 1
dikelasnya. Disamping itu dengan kepribadian yang sangat baik, berbudi bekerti
dan juga sangat sopan. Sedangkan Nadia adalah anak yang tidak pernah patuh
terhadap peraturan, sikapnya yang tomboi walaupun dia perempuan, dan
perkataanya yang terkadang sering berkata kurang sopan menjadikkanya tidak
disukai oleh beberapa guru.
Rio adalah anak yang ambisius, dia jarang sekali berbicara.
Walaupun begitu dia juga termasuk sosok yang cerdas. Ada beberapa kemampuan
yang dia kuasai selain kemampuan akademik dia juga sangat pandai melukis.
“Kringgg Kringggg Kringggg” (bunyi lonceng sekolah) pertanda bahwa
kelas akan segera dimulai
Dengan gugup Ani, Rio dan Nadia bergegas lari karena mendengar
bunyi lonceng tersebut.
Sebelum masuk ke kelas Nadia tiba-tiba kebelet Ke WC dan dia
langsung saja lari menuju WC tanpa sepengetahuan Ani dan Rio.
Tersadar ani mengetahui bahwa nadia sudah tidak berada
dibelakangnya lagi.
Ani : “Nad, kamu dimana?”
Tiba-tiba Bu Nida memanggil ani
Bu Nida :”Nduk, Ayo udah jamnya masuk kelas. Sebentar lagi ibu akan
mulai pelajarannya.”
Ani : “iii iiiiya bu” (dengan sedikit gelagap bingung karena nadia
belum juga muncul)
Nadia yang ternyata sudah selesai ke WC ternyata malah pergi ke Kantin,
tanpa ada rasa bersalah karena keterlambatannya.
Separuh jam pelajaran sudah selesai, Nadia menyelinap masuk ke
Ruang kelas, akan tetapi tanpa disengaja Bu Nida melihatnya masuk ke dalam
kelas.
Bu Nida : “Nad, darimana kamu?” (Bu Nadia bertanya dengan nada
marah cirikhas guru matematika)
Nadia :”dari WC buk hhee”
Bu Nida : “sudah berulang kali kamu melakukan hal seperti ini, ibu
sudah bosan dengan alasan yang sama. Sekarang Ibu akan memberikanmu hukuman
untuk membersihkan semua toilet disekolah. Sekarang keluar dari kelas sebelum
Ibu lebih marah lagi.
Nadia merasa kesal dengan perlakuan Bu Nida. Menurutnya Bu Nida
selalu memperlakukan hal yang berbeda kepada nadia, apapun itu. Dia sangat
jengkel dan murung berdiam diri di pojok sekolah. Bu Nida yang melihatnya
begitu merasa bersalah, dia juga merasa sangat keterlaluan dalam memperlakukan
Nadia.
Bu Nida : “nad, semua yang ibu lakukan adalah demi kamu sendiri.
Agar kamu bisa disiplin dalam menjalankan segala hal, ibu tidak bermaksud
memarahi kamu. Tapi marahnya ibu bukti bahwa ibu memperhatikanmu”
Nadia : “nadia minta maaf bu, nadia sering bikin ulah, sering bikin
ibu kesal dengan tingkah laku nadia. Nadia memang hanya memcari perhatian dari
ibu saja.”
Dan nadia menangis dalam pelukan Bu Nida dengan rasa penyesalan
yang amat besar.
Kue untuk Bu Fitri
(Karya Muhammad Zidny Khilman)
Dua hari lagi adalah hari guru. Aku dan teman sekelasku membuat
rencana untuk memberikan kejutan kepada Bu Fitri. Yups, Bu Fitri ini adalah
guru idaman kami. Matanya yang indah, hidungnya yang mancung, dan pipinya yang
tirus seakan-akan menambah kecantikan yang dimiliki olehnya. Beliau juga sangat
baik kepada kami dan selalu bercanda dengan kami.
“Lif, sebentar lagi kan hari guru nih ya, yuk rencanain buat ngasih
kejutan kepada guru idaman kita,” ujarku kepada Alif.
“Siapa emang?” jawab Alif.
“Siapalagi kalau bukan Bu Fitri,”
“Hahahahahahaha”
“Gasss. Atur jadwal kuy,” ujar Fahri yang tiba-tiba sudah ada di
antara kami.
“Eh kamu, Ri. Dari mana
kamu?” tanyaku.
“Biasa. Dari Sabang sampai Merauke cuman Bu Fitri guru idola kami,”
jawab Fahri.
“Yaelah bisa aja lu, Ri.”
Setelah berdiskusi beberapa menit, kami pun memutuskan untuk
memberikan hadiah kue kepada Bu Fitri.
“Siap. Nanti aku yang pesen kue di toko deket rumahku.”
Dua hari telah berlalu. Hari ini adalah hari guru. Aku begitu
sangat bersemangat. Aku selalu memandangi kue yang sudah kupesan kemarin.
Begitu indah jika dilihat. Bahkan kata ibuku lebih enak memandang kue yang
kupesan daripada memandang diriku. Aku membayangkan Bu Fitri ketika menerima
kue dari kami. Pasti beliau merasa senang sekali.
“Bu, aku berangkat sekolah dulu ya,” pamitku kepada ibuku.
“Iya, Nak. Hati-hati di
jalan. Kue nya jangan lupa dibawa,” sahut ibuku.
Hari ini aku berangkat sekolah dengan gembira. Tak lupa pula kue
untuk Bu Fitri juga Aku bawa dengan hati-hati. Aku berangkat sekolah dengan
jalan kaki karena jarak rumahku dengan sekolah tidak terlalu jauh.
Sesampainya di sekolah.
“Apa? Kenapa? Kapan? Di mana?” tanyaku dengan tidak begitu percaya.
“Iya. Tadi kepala sekolah ke kelas kita. Katanya, Bu Fitri tadi
pagi tiba-tiba tidak sadarkan diri dan sekarang dirawat di rumah sakit,” jawab
Alif dan Fahri dengan nada sedih.
“Yuk langsung ke rumah sakit,” ajakku tanpa ragu.
“Emang tau rumah sakit mana? Kan kami belum cerita.”
“Ohiya. Rumah sakit mana?”
“Rumah Sakit Sehat Selalu.”
“Gassssss. Ohya, Fahri tolong minta izin kepada kepala sekolah ya.
Nanti kamu nyusul.”
Kami sekelas pun pergi ke Rumah Sakit Sehat Selalu. Dari informasi
yang kudapatkan, Bu Fitri dirawat di Ruang Mawar 2.1. Kami pun langsung ke
ruang tersebut. Kami mengintip dari luar ruangan, terlihat Bu Fitri sudah
sadarkan diri. Kami pun langsung masuk.
“Bu. Bu Fitri kenapa?”
“Ndakpapa kok mas. Kalian kok malah ke sini?”
“Kami khawatir dengan Ibu. Tapi tenang, Bu. Tadi Kami sudah izin
kepada kepala sekolah dan sudah diizinkan untuk jenguk Bu Fitri.”
“Makasih ya mas sudah perhatian sama Ibu.”
“Iyalah. Kan Bu Fitri guru idola kami,” celetuk Alif dengan
nyengir.
Bu Fitri pun tersenyum manis. Saking manisnya, Aku hampir lupa
dengan kue yang ku pesan kemarin.
“Ohya, Bu. Ini ada hadiah dari kami. Terimakasih sudah selalu
mendidik kami dengan sabar, yang sudah menjadi teman bagi kami. Bu Fitri pokoknya
terbaik deh.”
“Iya, Bu. Bu Fitri Terbaik,” sahut teman satu kelasku.
“Makasih ya, Mas, Mbak. Do’ain Bu Fitri supaya cepat sembuh dan
dapat mengajar kalian lagi.”
“Aamiin.”
Tak terasa sudah satu jam kami mengobrol. Kami pun berpamitan
dengan Bu Fitri untuk kembali ke sekolah. Pembelajaran pun berjalan seperti
biasanya. Ketika setengah jam lagi bel pulang berbunyi, terlihat kepala sekolah
yang berjalan menuju kelas kami. Kepala sekolah itu tidak henti-hentinya
mengelap air matanya dengan tisu yang dipegang oleh tangan kanannya.
“Lif, kok kepala sekolah kita nangis-nangis gitu si?”
“Iya tidak seperti biasanya yang terlihat galak seperti singa yang
mengaum.”
“Udah-udah jangan ngobrol. Beliau sudah di depan pintu.”
“Hikss…Hiks…Hiks… Anak-anak….” Belum selesai ngomong, Aku memotong perkataan kepala sekolah.
“Bapak kenapa?”
“Anak-anak… Barusan dapat kabar dari
rumah sakit, bahwa Bu Fitri sudah tiada. Setelah dijenguk kalian tadi, tak lama
kemudian Bu Fitri kejang-kejang dan nyawanya tidak dapat tertolong.” Seluruh kelas pun merasakan kesedihan yang
dalam. Ditinggal satu-satunya guru idola membuat kami menangis. Di
tengah-tengah suasana haru, aku langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat Bu
Fitri untuk terakhir kalinya. Sesampainya di kamar tadi pagi, Bu Fitri sudah
tidak ada. Hanya terlihat kue yang masih utuh yang tadi pagi kami berikan
kepadanya.
“Terimakasih, Bu. Jasamu akan selalu ku kenang. Aku yakin engkau
mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Tuhan yang Maha Esa. Kami
mencintaimu.”
DONGENG ANAK
Angsa Ajaib Pak Slamet
(Karya Citra Ayu)
Di balik bukit-bukit yang hijau, terdapat satu pedesaan kecil yang
subur dan tenang. Di pedesaan tersebut tinggal lah seorang petani yang bernama
Pak Slamet, Pak Slamet tinggal bersama istrinya. Mereka berdua mengelola sebuah
peternakan kecil.
“Ini pakan bebek yang kemarin kamu pesan sudah datang Bu,” ucap Pak
Slamet.
“Oh syukurlah, langsung bawa kesini saja Pak,” jawab Bu Slamet yang
sedang memberi makan bebeknya.
Penghasilan mereka tidak besar, selain sayur mayur yang harga
jualnya tak seberapa, mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari susu
dan juga telur angsa. Semua hasil panen itu mereka jual ke pedagang di kota.
Walaupun mereka hidup dalam kesederhanaan, namun mereka tetap
bahagia.
“Penjualan musim ini tidak banyak, jadi kita harus berhemat,” ucap
Pak Slamet lirih.
“Iya Pak, akan aku atur supaya uang kita tetap cukup,” balas Bu
Slamet.
Setiap hari senin Pak Slamet pergi ke kandang angsa untuk mengambil
telur. Pagi ini ada sesuatu yang tak biasa diantara telur-telur angsanya. Pak
Slamet pun penasaran dan segera mendekati kandang angsa. Ada satu telur yang
tampak aneh, perlahan Pak Slamet mengambil telur tersebut. Ternyata itu adalah
telur emas.
“Hah!? i-ini telur emas,” ucap Pak Slamet dengan nada yang kaget.
“Istriku! Istriku! Cepat kemari sebentar,” teriak Pak Slamet
memanggil istrinya.
Bu Slamet yang sedang memetik sayuran pun langsung berlari ke arah
kandang angsa.
“Apa? apa? ada apa? apakah angsa kita hilang atau telur kita dicuri
orang?” tanya Bu Slamet dengan nafas yang terenggah-enggah.
“Tidak, bukan itu, lihatlah ini,” Pak Slamet memperlihatkan telur
emas itu pada istrinya.
“Wah, apakah itu telur emas?” tanya Bu Slamet.
“Sepertinya begitu, angsa kita menghasilkan telur emas,”
“Mungkin itu ucapan terima kasih dari angsa, karena kita telah
merawatnya dengan baik suamiku,” ucap Bu Slamet senang.
Mereka berdua sangat bahagia, dan berjanji akan merawat si angsa
dengan lebih baik lagi. Setiap hari sang angsa menelurkan satu telur emas,
hingga akhirnya dalam seminggu telah terkumpul 7 butir telur emas.
Pak Slamet pun membawa telur emas tersebut ke bank untuk di
tukarkan dengan uang.
“Bagaimana mungkin ada telur yang terbuat dari emas,” ucap heran
petugas bank.
Petugas bank tampak terheran-heran dengan telur emas tersebut.
“Bagaimana Pak? emas asli bukan?” tanya Pak Slamet.
“Ini semua emas asli Pak Slamet,” jawab petugas bank setelah
memeriksa telur tersebut.
Akhirnya Pak Slamet mendapatkan uang hasil menukarkan telur
emasnya.
“Istriku, istriku kemarilah lihat apa yang ku bawa,” teriak Pak
Slamet yang berada di halaman rumah dengan membawa dua kantong berisikan uang
hasil menukarakan telur tadi.
“Syukurlah kita sungguh beruntung, dapat rezeki yang berlebih Pak,
sekarang kita bisa makan dengan enak,” ucap Bu Slamet senang.
“Tentu saja, kita juga bisa membeli pakaian baru,”
Mulai saat itu Pak Slamet pergi ke bank seminggu sekali, untuk
menukarkan telur emasnya. Uang hasil penjualan telur itu mereka gunakan untuk
memperbaiki rumah. Kini rumah mereka sangat besar dan mewah, selain itu mereka
juga membeli beberapa sapi tambahan dan angsa. Sedikit demi sedikit peternakan
mereka bertambah besar.
Dalam sekejap penampilan mereka berubah menjadi seperti orang kaya,
pakaian mereka terlihat bagus dan mahal. Hal tersebut membuat tetangga terpanah
sekaligus heran bagaiamna mungkin mereka menjadi kaya secepat itu.
Tak hanya penampilan, sifat mereka pun berubah menjadi serakah.
Setiap hari mereka hanya memandang angsa berharap angsanya segera menelurkan
telur emas.
“Bertelurlah yang banyak angsa,” perintah Bu Slamet.
“Iya, jadikan kami lebih kaya lagi,” ucap Pak Slamet.
Hingga suatu pagi, Pak Slamet hendak mengambil telur emasnya akan
tetapi tidak ada satupun telur emas ditumpukan telur angsa pafa pagi itu.
“Hei! angsa kenapa hanya telur biasa saja, kemana telur emasmu,”
ucap Pak Slamet marah.
“Awas kau, jika tidak ada telur emas besok pagi,”
Kejadian itu ternyata terus berlanjut, setelah 2 minggu berlalu
tetap saja tidak ada telur emas di dalam kandang.
Hal tersebut membuat Pak Slamet murka.
Pak Slamet menatap sang angsa dengan wajah marah.
Pak Slamet marah dan mengejar si angsa yang tak lagi menelurkan
telur emas tersebut. Sang angsa pun lari ketakutan dan meninggalkan peternakan
Pak Slamet. Pak Slamet tertunduk lesu, meratapi angsanya yang telah pergi, itu
artinya ia tidak akan lagi mendapatkan telur emas untuk ditukar dengan uang.
Lambat laun uang tabungan mereka mulai menipis dan akhirnya habis.
Mereka pun kebali menjadi petani yang hidup sederhana.
Pesan Moral
“Keserakahan tidak akan membuat kita sukses.
Selalu bersyukur terhadap apa yang kamu milik.
Bijaklah dalam menggunakan uang”
NASIHAT SEEKOR TIKUS
(Karya Fitrotul
Faizah)
Disuatu ketika
disebuah hutan yang sangat lebat, ada seekor induk kucing dengan anaknya. Induk
kucing itu sangat menyanyangi sekali kepada anaknya. Ia yang mencari makanan
untuk anak-anaknya walaupun anaknya sudah mulai besar. Dan selalu bekerja keras
untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka, induk kucing akhirnya menderita
sakit. Induk kucing itu langsung memanggil anaknya. Dia memberitahu kepada
anaknya bahwa ia sakit dan juga menyuruh anaknya agar belanja untuk mencari
makanan.
Anak kucing
yang suka manja sekali dan malas malasan itu malah keliru menerima nasihat
ibunya. Dia merasa bahwa ibunya itu mengusir secara halus dan tidak sayang lagi
kepadanya. Anak kucing itu langsung pergi meninggalkan induknya yang sudah tua
dan juga sakit sakitan.
Anak kucing itu
berjalan tak tau arah tujuannya. Suatu ketika ia mendongakkan kepalanya ke
atas. Ia melihat sinar matahari dengan sinar yang sangat menyilaukan. Dia juga
beranganangan bahwa ibunya matahari itu hidupnya tentu akan tenang dan tentram.
“Wahai,
matahari yang menawan apa kamu mau mengambil aku sebagai anakmu?” katanya seru
kepada matahari menawan itu.
“ Kenapa kamu
ingin menjadi anakku?”
“Sebab aku
ingin sekali menawan sepertimu.”
“ aku tidak
selalu menang dan senang,dan tidak juga selalu menawan Masih ada juga yang bisa
mengalahkanku.”
“Siapa itu?”
“Awan.
Mendengar
jawaban matahari seperti itu, kucing itu sudah langsung kepikiran lagi. Mending
kalau begitu awan saja yang akan menjadi induknya. “Awan apa engkau mau menjadi
ibuku?”
“Kenapa?
“oh, kucing
yang lucu. Masih ada juga yang bisa mmengalahkan aku di bumi ini.”
“Siapa dia?
“Angin! angin
itu datang langsung menyerang, maka badanku akan tercerai berai. Aku yang akan
diterbangkan entah kesana kemari sampai hancur lebur hingga menjadi air.”
Kucing itu
terdiam sejenak saat mendengar keterangan awan. Ia juga berpikir pikir lagi.
Setelah itu ia pergi kearah angin yang sangat kencang sekali.
“Angin, apa
kamu mau juga menjadi ibuku?”
“Apa sebabnya
kamu juga ingin menjadi anakku?”
“Karena kamu
juga bebas kemana mana.”
“Jangan kamu
pikir aku selalu senang. Akupun juga sering punya masalah dan hambatan
juga,karena disini juga ada yang lebih hebat dari aku juga.”
“Siapa dia?”
kucing itu langsung penasaran.
“Bukit! Walaupun bebasnya aku gerak namun juga
jika didepanku ada bukit, aku tidak bisa meneruskan perjalananku.”Mendengar
ucapan kata angin itu, kucing tersebut segera pergi kearah yang tinggi.
Apa kamu mau
juga mengangkat aku ini sebagai anakmu?”
“Apa yang
sedang kamu harapkan dariku?”tanya bukit itu.
“Kamu gagah dan
kuat. Aku ingin sekali seperti engkau?”
“Aku tidak
lepas dari berbagai masalah. Masih ada yang sering mengganggu ketenanganku.”
“Benarkah?
Siapa dia?”
“Kerbau.
Diapun langsung
pergi kearah kerbau yang ditambatkan. Nafasnya sudah mulai tersenggal senggal
tetapi juga ia tidak perduli. Akhirnya bertanya tanya kepada kerbau yang
ternyata selama ini kerbau itu mengungkapkan bahwa rotan yang diikat itulah
yang membuat hidupnya tidak senang. Lalu
kucing itu berlari kearah rumpun rotan. Menurut rotan, hidupnya pun tidak juga
selalu tenang. Mendengar jawaban itu kucing itu bergegas segera pergi ke sebuah
lubang, ditempat itu juga ada keluarganya tikus. Kucing itu mengutarakan
maksudnya.
“Wahai tikus,
apa kamu mau mengangkat aku sebagai anakmu juga?”
Induk tikus itu
juga curiga, ada kucing yang ingin menjadi anak angkatnya.
“Apa tidak
keliru sama sekali bicaramu itu?” tanya induk tikus waspada.”Tidak. Saya
ini berbicara sungguh-sungguh,”jawab
kucing.” Hidup
dihutan ini juga ada hewan-hewan yang sering membunuh anak-anak kami yang sering menjadi santapannya.”
“Serius? Siapa binatang yang pemberani itu?”
“Kucing tua yang sangat ditakuti. Beberapa hari ini anak-anak kami bisa
bermain-main
diluar. Kabarnya kucing betina itu sekarang mengalami sakit-sakitan.
Apalagi anak satusatunya yang sangat disyangi meninggalkan dia.Kucing tua itu
tampak menderita sekali.
Sementara anaknya yang selalu mencari kesenangan diluar sendiri, tak
tahu terima kasih
kepada ibunya.”
Mendengar keterangan yang sangat panjang lebar itu, si kucing akhirnya
terduduk lemas sekali. Tidak terasa matanya yang berlinang. Ia merasakan bahwa rindu
sekali kepada ibunya. Dia merasa bahwa dirinya sangat berdosa terhadap ibunya. Tanpa
mengingat lelah dia segera mencari ibunya. Ketika berjumpa denganya ternyata ibunya tetap menerima dia dengan penuh
rasa kasih sayang. Sejak saat itulah ia menjadi kucing yang sangat rajin. Sekarang ia yang juga mecari makanan untuk
ibunya. Dia tidak akan lagi menjadi kucing yang manja-manja dan juga malas.
Si Ayam yang Sombong
(Karya Milati Kamila)
Pada
suatu hari disuatu hutan belantara hiduplah seekor ayam yang bernama boni.Boni
adalah ayam yang sangat populer dikalangan ayam lain di hutan tersebut.
Suaranya saat berkokok dan badannya yang gagah membuat boni disukai banyak
hewan lain dan membuat para ayam betina mengagumi kelebihan yang dimiliki oleh
Boni. Selain itu boni juga terkenal sebagai ayam yang baik dihutan tersebut.
Disuatu
pagi yang cerah ada suatu perlombaan antar ayam yang memiliki suara berkokok
paling bagus. Si boni yang terkenal dengan suara berkokok yang khas nan merdu
akhirnya berniat untuk mengikuti perlombaan tersebut.Perlombaan tersebut diikuti
oleh sepuluh ekor ayam yang memiliki suara berkokok yang dianggap bagus.
Setelah semua ayam mengikuti perlombaan tiba saatnya pada saat pengumuman hasil
perlombaan.Juri perlombaan mengumumkan Boni adalah sang juara yang memiliki
suara berkokok yang khas nan indah dibandingkan dengan sepuluh ekor ayam yang
lain. Boni merasa sangat bahagia dapat menjadi juara perlombaan tersebut.Ayam
lain mengucapkan selamat kepada boni atas kemenangannya,namun setelah
perlombaan tersebut sikap si boni yang awalnya terkenal sebagai ayam yang baik
berubah menjadi arogan dan sombong.Boni merasa dirinya unggul dibandingkan ayam
lain karena memiliki suara berkokok yang indah dan badannya yang gagah,ia
selalu memamerkan gelar kejuaraanya tersebut. Perbedaan sikapnya membuat ayam
lain akhirnya banyak yang tidak menyukai si boni,namun boni tetap saja sombong
dan selalu berpikir siapa yang tidak mau berkawan denganku si ayam dengan suara
berkokok paling bagus di hutan ini. Ayam yang berada di hutan tersebut muak
dengan kesombongan si Boni hingga akhirnya ada ayam lain yang juga memiliki
suara berkokok yang bagus ayam itu bernama Ciko.
Pada
suatu hari diadakan lagi perlombaan ayam dengan suara berkok paling indah. Si
boni sangat semangat untuk mengikuti perlombaan itu. Perlombaan tersebut
diikuti oleh lima belas ekor ayam. Si boni pemenang perlombaan kemarin sombong
mengangap dirinya yang pasti akan juara pada perlombaan kali ini sambil ia
meremehkan lawan lawannya. Pada saat perlombaan, tiba saatnya untuk Ciko
berkokok, saat ciko mengeluarkan suara berkoknya semua orang langsung terpanah
dengan suara berkokok ciko. Boni yang mendengarnya merasa begitu khawatir jika
ciko akan merebut posisinya sebagai juara bertahan. Hingga pada saat pengumuman
dibacakan ternyata Ciko lah yang memenangkan perlombaan kali ini. Ciko begitu
bahagia namun ia tidak suka terlalu dipuji oleh ayam lain. Ciko tetap rendah
hati dan berkawan dengan ayam lain. Boni yang kalah dalam perlombaan tersebut
sedih dan membuat semua ayam meninggalkannya karena dia bukan lagi juara serta
karena perilakunya yang sombong.
Boni
akhirnya sadar bahwa dia selama ini telah sombong dan selalu meremehkan ayam
lain. Boni sangat menyesali perbuatannya,ia meminta maaf kepada semua ayam yang
berada dihutan tersebut. Ayam lain yang melihat ketulusan hati di boni dalam
meminta maaf. Akhirnya mereka semua memafkan kesalahan boni dan berkawan baik
kembali dengan boni.
Amanat
yang dapat diambil dari kisah tersebut adalah kita tidak boleh sombong dengan
kelebihan yang kita miliki dan tidak boleh menyepelekan orang lain.
DRAMA ANAK
Slamet : Cuek
Bernard : Lucu, Sok Ke-Inggris-an
Princess : Manja
Catty : Sok Pemberani padahal Penakut
Albert : Ikut-ikut doang apa yang diinginkan temannya
PETAK UMPET DI RUMAH ANGKER
Di suatu antah berantah, terlihat lima anak yang duduk-duduk santai di depan rumah besar. Keempat anak tersebut bermain smartphone dan anak satunya hanya duduk-duduk melamun tidak ada kegiatan.anak tersebut pun mengajak teman-temannya untuk bermain bersama. Ya kali melamun sendirian, hehe.
Slamet : “Kok pada main smartphone semua sih. Bagaimana kalua kita main petak umpet aja”
Bernard : “Great.. Let’s go”
Princess : “Gak ah, nanti kotor”’
Bernard : “What? Kotor apanya, Princ? Playing petak umpet kok dirty?”
Princess : “Hah? Party?”
Bernard : “Dirty my dear. Dirty alias kotor”
Pricess ; “Oh Kotor… Maksudnya nanti ada yang main kotor gitu”
Albert : “Bener, bakalan ada yang bermain kotor”
Catty : “Udahlah santai aja, main petak umpet itu kan mudah, anak kelas 1 aja bisa”
Princess : “Bukan itu masalahnya, masalahnya kita udah gede, tapi masa main permainan anak kecil”
Albert : “Aku sudah besar tidak mau main petak umpet lagi”
Slamet : “Kita mainnya di tempat angker aja biar ekstrem”
Albert : “Apa lagi di tempat angker.. Ogah”
Princess : “Apa lagi di tempat angker. Kan biasanya tempat angker itu berdebu”
Bernard : “Come on.. Let’s just play.. Sebentar doang kok”
Slamet : “Jadi gimana nih?. Mau main atau kalian takut?”
Catty : “ Zaman gini takut sama hantu”
Bernard : “Sudahlah. Don’t waste any more time. Go”
Akhirnya mereka berlima pun bermain petak umpet di sebuah rumah tua yang katanya angker. Bernard yang merupakan kucing atau orang yang mencari pemain lainnya sudah menemukan 3 temannya. Hanya Slamet saja yang tidak ditemukan. Setelah beberapa saat mencari akhirnya mereka ber-4 sepakat untuk mencari Slamet bersama.
Catty : “Gimana kalau si Slamet diumpetin hantu”
Bernard : “Oh Good. Let’s pray together”
Albert : “Apaan sih si Bernard ini. Malah bercanda. Bagaimana kalau memang benar si Slamet diumpetin hantu?”
Catty : “Haduh. Zaman gini masih percaya hantu He to the low Aaaaa!!” ( nunjuk )
Princess : “Ada apa?”
Catty : “A-ada ha-ha“
Bernard : “Hari Tanu ketua Perindo? What is this? Tolong explain”
Catty ( Geleng kepala ) : “Ha-ha-ha”
Albert : “Ha, hari-hari esok adalah milik kita, Persija jadi juara di liga” (malah jadi the jak)
Catty ( Geleng kepala ) : “Ha-ha-haacccciing!” ( bersin )
Catty : “Itu ada pesan kertas di atas meja” (nunjuk)
Albert ( Ngambil ) : “ Selamat tinggal. Itulah isi pesan ini”
Princess : “ Sepucuk kertas mencurigakan yang tergeletak begitu saja di atas meja. Aaapakah itu tulisan Slamet?”
Bernard : “Don’t Don’t Slamet sudah dibawa hantu”
Catty : “Apaan don’t-don’t?”
Bernard : “Jangan-jangan”
Catty : “Duh jadi atut”
Princess : “Udahlah. Ayo kita ke rumah Slamet. Ngomong sama orangtuanya”
Akhirnya setelah kejadian itu mereka pergi ke rumah Slamet dengan perasaan bersalah di pundak mereka. Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di rumah Slamet.
Princess : “ Assalammu’alaikum”
Slamet : “ Wa’alaikumsalam”
Catty : “ Loh kok Kamu gak mati?”
Slamet : “Karena Aku masih hidup”
Bernard : “Do you nulis this pesan?” ( Menunjukkan kertas yang tadi )
Slamet : “Ya. Itu selamat tinggal maksud Gue, Gue mau pergi ke rumah dulu tadi laper banget”
Catty : “Tuh kan. Di zaman dini masih percaya yang kayak gituan”
Albert : “Tapi Lu tadi juga takut”
Catty : “ Itu tadi cuman ekting”
Slamet : “Jadi, sekarang kalian mau apa?”
Princess : “ Pulang ajak yu” ( Pergi )
Akhirnya misteri pun terpecahkan dan mereka berlima dapat beristirahat dengan tenang.
ENSIKLOPEDIA ANAK
Komentar
Posting Komentar