MADING ONLINE KELOMPOK 3




PENGANTAR REDAKSI

 

Pembaca yang berbahagia, pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmatnya majalah online ini dapat diselesaikan di waktu yang tepat.

Di majalah online ini, kami memuat rubrik-rubrik khusus untuk anak-anak mulai dari dongeng, cerita pendek, puisi, naskah drama dan artikel ensiklopedia yang menarik untuk dibaca.

Semoga majalah online ini dapat memberikan motivasi untuk para pembaca untuk berkarya dalam tulisan. Semoga generasi muda seperti kamu, iya kamu..... dapat menjadi orang yang selalu memiliki kreativitas

Dan tak lupa kami juga mengarapkan kritik dan saran dari para pembaca demi kemajuan majalah online kami.

Demikian yang dapat kami sampaikan, selamat membaca.

Jangan lupa stay safe and stay healthy

 

 

SALAM KAMI

Tim Redaksi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PUISI ANAK

 

Keluargaku

(Karya Miftahul Jannah)

 

Keluarga sebagai pelindungku

Aku sangat sayang ibuku

Aku sayang ayahku

Aku juga sayang adik-adikku

Merekalah keluargaku, milikku seutuhnya

 

Sangat bahagia bisa memilikinya

Selalu ada dalam suka dan duka

Kami selalu saling melengkapi

Jangan pisahkan kami, Tuhan

 

Ayah Ibu

(karya Miftahul Jannah)

 

Biarkan aku menulis puisi

Tentang dirimu

Ayah ibuku..

 

hatiku begitu bahagia

Mengenangkan segalanya.

Bahwa aku mempunyai seorang ibu

Yang selalu memperhatikan diriku.

 

Aku punya seorang ayah

Yang tiada berhenti berjuang

Agar kami semua bahagia.

 

Setiap pengorbanan

Setiap perjuangan

Tidak akan kami sia-siakan.

 

Guruku

(karya Miftahul Jannah)

Awal ku masuk kelas

Kaku, bingung, dan takut

Namun, kau memberiku senyum semangat yang membuatku bangkit

 

Belajar denganmu aku jadi mudah mengerti

Kau tak pernah letih membimbingku

Ilmu yang kau ajarkan padaku

Amatlah berguna dan bermanfaat

 

Tak pernah letih kau membimbingku

Jasamu akan selalu kubawa

Namamu akan selalu terukir di benakku

Kaulah pahlawan yang menerangi mimpiku

 

Ceritaku

(karya Miftahul Jannah)

 

Tiada yang lebih indah dari pada

Bangun pagi

Bersiap ke sekolah

Bertemu guru dan juga kawan

Belajar demi meraih mimpi

 

Pak dan Ibu guru

Maaf jikaku sering buat susah

Terima kasih karena selalu sabar membimbingku

Terima kasih karena telah menjadi kendaraan kesuksesan

 

Alamku hijau berseri

(karya Tri Mulyani)

 

Awan putih gang indah

Hutan hijau yang menawan

Teduhnya beringin tua yang rindang

Burung-burung berkicau riang

Suara air jernih terus mengalir

Guruku

(karya Tri Mulyani)

 

Kau ajarkan kami menulis   

Kau ajarkan kami membaca

Kau ajarkan kami ilmu

Agar kami menjadi yang berguna

Terima kasih guruku

Jasamu akan selalu dihatiku


Desaku

(karya Milati Kamila)

 

Matahari pagi yang berseri

Udara sejuk selalu menyapa di pagi hari

Sawah yang luas

Padi yang mulai menghijau

Disitulah Desaku

 

Dimana penduduk desa mencari makan

Tempat aku dilahirkan

Desa kecil yang indah

Desa yang ku cinta

Desaku yang permai

 

Sekolahku

(karya Ati Dinan Nasihah)

 

Sekolahku

Tempatku merangkai masa depanku

Tempatku bertemu pahlawan tanpa tanda jasaku

Tempatku bertemu dengan kawanku

 

Sekolahku

Hijau taman yang menghiasi setiap sudut sekolah

Semilir angin yang menambah kesejukan

Deretan kelas berwarna menambah indah tentangmu

 

Sekolahku

Syukurku dalam kalbu

Menggapai cita dirumah keduaku

Tempat terindah tuk para penuntut ilmu

 

Kampung halamanku

(karya Ati Dinan Nasihah)

 

Hamparan sawah yang hijau

Deretan perbukitan yang menghiasimu

Gemercik air yang begitu menenangkan

Kicauan burung dipagi hari menambah asrinya kampungku

 

Sungguh indah kampung halamanku

Tempatku tinggal dan bermain dengan alam

Tempatku menghabiskan masa kecilku

Keindahanmu kan kujaga untuk penerus negeri

 

Kelas Membaca

(karya Fitrotul Faizah)

 

Lekas buka bukumu

Mari tulis sepuluh paragraf

Dan bacakan kepada rekan sebelahmu

Kalau mereka suka maka berbanggalah

Kalau mereka bosan maka belajarlah

Untuk tidak hilang asa dan

Terus mencari kurangmu

 

 

CERPEN ANAK

 

Terima Kasih, Bu Guru.

(Karya Citra Ayu)

 

“Selamat pagi anak-anak?”

“Selamat pagi Bu Guru...” jawab kompak satu kelas

Bu Rani tersenyum melihat semua murid kelas 2 kompak menjawab sapaannya dengan wajah yang ceria, Bu Rani pun menaruh perlengkapan mengajarnya di meja.

“Hari ini kita akan melanjutkan materi kemarin ya anak-anak, oh iya kemarin kan ibu kasih PR matematika, sekarang dikumpulin di meja ya” ucap Bu Rani

Jojo yang tidak mengerjakan PR nya pun sudah ketakutan di meja nya, apalagi melihat teman-temannya ternyata mengerjakan PR semua kecuali dirinya.

“Kamu kenapa Jo?” tanya Rio yang duduk di belakang Jojo

“A-aku enggak ngerjain PR” balas Jojo menundukan kepalanya

Rendi yang duduk sebangku dengan Rio, langsung berteriak “Bu Guru, Jojo tidak mengerjakan PR!”

Bu Rani yang sedang menulis di papan tulis pun menengok ke arah murid yang memanggil nya, sedangkan Jojo sudah takut dimarahi karena tidak mengerjakan PR. Sebenarnya Jojo bukan nya lupa atau tidak mau mengerjakan, hanya saja dirinya memang tidak bisa mengerjakan PR tersebut. Bu Rani pun menghampiri meja Jojo, Jojo sudah pasrah jika dirinya akan dimarahi.

“Jojo kenapa tidak mengerjakan PR?” tanya Bu Rani

“Saya tidak paham caranya Bu Guru” jawab Jojo jujur

“JOJO KAN BODOH,” teriak Budi membuat beberapa teman yang lain tertawa

Jojo sudah ingin menangis karena di tertawakan oleh teman-temannya.

“Budi kamu tidak boleh seperti itu, kalau ada teman kita yang belum bisa harusnya kita bantu bukan malah mentertawakannya. Sikap seperti itu tidak baik”

Budi lalu berjalan ke arah Jojo, Budi menyalurkan tangannya untuk meminta maaf.

“Jojo aku minta maaf ya”

Jojo pun membalas uluran tangan Budi, Bu Rani tersenyum senang melihat kelakuan muridnya.

“Anak-anak kalian menulis materi yang ada di papan tulis dulu ya, ibu akan bantu Jojo dulu”

“Baik, Bu Guru...” jawab kompak sekelas

Bu Rani lalu duduk di sebelah Jojo, melihat buku Jojo yang masih terdapat soal yang belum dikerjakan.

“Jadi Jojo belum bisa pembagian?”

Jojo hanya menganggukkan kepalanya.

“Sebenarnya saya juga belum bisa perkalian Bu Guru”

“Kalau seperti itu, ibu akan bantu kamu agar bisa perkalian terlebih dahulu” jawab Bu Rani

“Tapi kan saya bodoh, Bu Guru” ucap Jojo yang sudah menangis

“Kata siapa Jojo bodoh, Jojo hanya belum bisa saja nanti pasti Jojo bisa kok, ibu akan bantu Jojo sampai bisa pokoknya” ucap Bu Rani memberi muridnya itu semangat.

Walaupun membutuhkan waktu seminggunan lebih, Bu Rani mengajari Jojo dengan sabar dan pelan, perlahan Jojo akhirnya paham dan sudah bisa perkalian, Jojo bahkan sangat bersemangat untuk bisa paham tentang pembagian.

“Akhirnya Jojo bisa juga kan? Jangan patah semangat ibu akan bantu Jojo sampai pintar pokoknya” ucap Bu Rani

“Iya Bu Guru, ternyata perkalian tidak sesusah yang dibayangkan. Terima kasih, Bu Guru”

 

 

 

Guru Galak

(Karya Ani Khofifah)

Dipagi hari seperti hari biasanya ani dan teman-temannya berangkat sekolah pagi hari. Mereka berangkat ke sekolah dengan jalan kaki. Suka ria mereka lalui melalui jalan kaki tersebut menjadi media untuk bergurau dan bercerita antara satu dengan yang lainnya.

Ani : “Nad, kamu udah ngerjain PR dari bu Nida belum?” tanya Ani dengan sedikit cemas

Nadia : “Eh, Ngada-ngada aja kamu emang ada PR” (nadia dengan santainya menjawab)

Rio : “anak perempuan kok ngga rajin sih nad” (gumam rio dengan tatapan sinisnya)

Ani adalah anak yang cukup cerdas, ia selalu mendapat peringkat 1 dikelasnya. Disamping itu dengan kepribadian yang sangat baik, berbudi bekerti dan juga sangat sopan. Sedangkan Nadia adalah anak yang tidak pernah patuh terhadap peraturan, sikapnya yang tomboi walaupun dia perempuan, dan perkataanya yang terkadang sering berkata kurang sopan menjadikkanya tidak disukai oleh beberapa guru.

Rio adalah anak yang ambisius, dia jarang sekali berbicara. Walaupun begitu dia juga termasuk sosok yang cerdas. Ada beberapa kemampuan yang dia kuasai selain kemampuan akademik dia juga sangat pandai melukis.

“Kringgg Kringggg Kringggg” (bunyi lonceng sekolah) pertanda bahwa kelas akan segera dimulai

Dengan gugup Ani, Rio dan Nadia bergegas lari karena mendengar bunyi lonceng tersebut.

Sebelum masuk ke kelas Nadia tiba-tiba kebelet Ke WC dan dia langsung saja lari menuju WC tanpa sepengetahuan Ani dan Rio.

Tersadar ani mengetahui bahwa nadia sudah tidak berada dibelakangnya lagi.

Ani : “Nad, kamu dimana?”                                                   

Tiba-tiba Bu Nida memanggil ani

Bu Nida :”Nduk, Ayo udah jamnya masuk kelas. Sebentar lagi ibu akan mulai pelajarannya.”

Ani : “iii iiiiya bu” (dengan sedikit gelagap bingung karena nadia belum juga muncul)

Nadia yang ternyata sudah selesai ke WC ternyata malah pergi ke Kantin, tanpa ada rasa bersalah karena keterlambatannya.

Separuh jam pelajaran sudah selesai, Nadia menyelinap masuk ke Ruang kelas, akan tetapi tanpa disengaja Bu Nida melihatnya masuk ke dalam kelas.

Bu Nida : “Nad, darimana kamu?” (Bu Nadia bertanya dengan nada marah cirikhas guru matematika)

Nadia :”dari WC buk hhee”

Bu Nida : “sudah berulang kali kamu melakukan hal seperti ini, ibu sudah bosan dengan alasan yang sama. Sekarang Ibu akan memberikanmu hukuman untuk membersihkan semua toilet disekolah. Sekarang keluar dari kelas sebelum Ibu lebih marah lagi.

Nadia merasa kesal dengan perlakuan Bu Nida. Menurutnya Bu Nida selalu memperlakukan hal yang berbeda kepada nadia, apapun itu. Dia sangat jengkel dan murung berdiam diri di pojok sekolah. Bu Nida yang melihatnya begitu merasa bersalah, dia juga merasa sangat keterlaluan dalam memperlakukan Nadia.

Bu Nida : “nad, semua yang ibu lakukan adalah demi kamu sendiri. Agar kamu bisa disiplin dalam menjalankan segala hal, ibu tidak bermaksud memarahi kamu. Tapi marahnya ibu bukti bahwa ibu memperhatikanmu”

Nadia : “nadia minta maaf bu, nadia sering bikin ulah, sering bikin ibu kesal dengan tingkah laku nadia. Nadia memang hanya memcari perhatian dari ibu saja.”

Dan nadia menangis dalam pelukan Bu Nida dengan rasa penyesalan yang amat besar.

 

 

Kue untuk Bu Fitri

(Karya Muhammad Zidny Khilman)

 

Dua hari lagi adalah hari guru. Aku dan teman sekelasku membuat rencana untuk memberikan kejutan kepada Bu Fitri. Yups, Bu Fitri ini adalah guru idaman kami. Matanya yang indah, hidungnya yang mancung, dan pipinya yang tirus seakan-akan menambah kecantikan yang dimiliki olehnya. Beliau juga sangat baik kepada kami dan selalu bercanda dengan kami.

 

“Lif, sebentar lagi kan hari guru nih ya, yuk rencanain buat ngasih kejutan kepada guru idaman kita,” ujarku kepada Alif.

 “Siapa emang?” jawab Alif.

“Siapalagi kalau bukan Bu Fitri,”      

“Hahahahahahaha”    

“Gasss. Atur jadwal kuy,” ujar Fahri yang tiba-tiba sudah ada di antara kami.

 “Eh kamu, Ri. Dari mana kamu?” tanyaku.

“Biasa. Dari Sabang sampai Merauke cuman Bu Fitri guru idola kami,” jawab Fahri.

“Yaelah bisa aja lu, Ri.”

Setelah berdiskusi beberapa menit, kami pun memutuskan untuk memberikan hadiah kue kepada Bu Fitri.

“Siap. Nanti aku yang pesen kue di toko deket rumahku.”

Dua hari telah berlalu. Hari ini adalah hari guru. Aku begitu sangat bersemangat. Aku selalu memandangi kue yang sudah kupesan kemarin. Begitu indah jika dilihat. Bahkan kata ibuku lebih enak memandang kue yang kupesan daripada memandang diriku. Aku membayangkan Bu Fitri ketika menerima kue dari kami. Pasti beliau merasa senang sekali.

“Bu, aku berangkat sekolah dulu ya,” pamitku kepada ibuku.

 “Iya, Nak. Hati-hati di jalan. Kue nya jangan lupa dibawa,” sahut ibuku.

Hari ini aku berangkat sekolah dengan gembira. Tak lupa pula kue untuk Bu Fitri juga Aku bawa dengan hati-hati. Aku berangkat sekolah dengan jalan kaki karena jarak rumahku dengan sekolah tidak terlalu jauh.

Sesampainya di sekolah.

“Apa? Kenapa? Kapan? Di mana?” tanyaku dengan tidak begitu percaya.

“Iya. Tadi kepala sekolah ke kelas kita. Katanya, Bu Fitri tadi pagi tiba-tiba tidak sadarkan diri dan sekarang dirawat di rumah sakit,” jawab Alif dan Fahri dengan nada sedih.

“Yuk langsung ke rumah sakit,” ajakku tanpa ragu.

“Emang tau rumah sakit mana? Kan kami belum cerita.”

“Ohiya. Rumah sakit mana?”

“Rumah Sakit Sehat Selalu.”

“Gassssss. Ohya, Fahri tolong minta izin kepada kepala sekolah ya. Nanti kamu nyusul.”

Kami sekelas pun pergi ke Rumah Sakit Sehat Selalu. Dari informasi yang kudapatkan, Bu Fitri dirawat di Ruang Mawar 2.1. Kami pun langsung ke ruang tersebut. Kami mengintip dari luar ruangan, terlihat Bu Fitri sudah sadarkan diri. Kami pun langsung masuk.

 “Bu. Bu Fitri kenapa?”

“Ndakpapa kok mas. Kalian kok malah ke sini?”

“Kami khawatir dengan Ibu. Tapi tenang, Bu. Tadi Kami sudah izin kepada kepala sekolah dan sudah diizinkan untuk jenguk Bu Fitri.”

“Makasih ya mas sudah perhatian sama Ibu.”

“Iyalah. Kan Bu Fitri guru idola kami,” celetuk Alif dengan nyengir.

Bu Fitri pun tersenyum manis. Saking manisnya, Aku hampir lupa dengan kue yang ku pesan kemarin.

“Ohya, Bu. Ini ada hadiah dari kami. Terimakasih sudah selalu mendidik kami dengan sabar, yang sudah menjadi teman bagi kami. Bu Fitri pokoknya terbaik deh.”

“Iya, Bu. Bu Fitri Terbaik,” sahut teman satu kelasku.

“Makasih ya, Mas, Mbak. Do’ain Bu Fitri supaya cepat sembuh dan dapat mengajar kalian lagi.”

“Aamiin.”

Tak terasa sudah satu jam kami mengobrol. Kami pun berpamitan dengan Bu Fitri untuk kembali ke sekolah. Pembelajaran pun berjalan seperti biasanya. Ketika setengah jam lagi bel pulang berbunyi, terlihat kepala sekolah yang berjalan menuju kelas kami. Kepala sekolah itu tidak henti-hentinya mengelap air matanya dengan tisu yang dipegang oleh tangan kanannya.

“Lif, kok kepala sekolah kita nangis-nangis gitu si?”

“Iya tidak seperti biasanya yang terlihat galak seperti singa yang mengaum.”

“Udah-udah jangan ngobrol. Beliau sudah di depan pintu.”

“Hikss…Hiks…Hiks… Anak-anak….” Belum selesai ngomong, Aku memotong perkataan kepala sekolah.

“Bapak kenapa?”

“Anak-anak… Barusan dapat kabar dari rumah sakit, bahwa Bu Fitri sudah tiada. Setelah dijenguk kalian tadi, tak lama kemudian Bu Fitri kejang-kejang dan nyawanya tidak dapat tertolong.”  Seluruh kelas pun merasakan kesedihan yang dalam. Ditinggal satu-satunya guru idola membuat kami menangis. Di tengah-tengah suasana haru, aku langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat Bu Fitri untuk terakhir kalinya. Sesampainya di kamar tadi pagi, Bu Fitri sudah tidak ada. Hanya terlihat kue yang masih utuh yang tadi pagi kami berikan kepadanya.

“Terimakasih, Bu. Jasamu akan selalu ku kenang. Aku yakin engkau mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Tuhan yang Maha Esa. Kami mencintaimu.”

 

 

DONGENG ANAK

 

Angsa Ajaib Pak Slamet

(Karya Citra Ayu)

 

Di balik bukit-bukit yang hijau, terdapat satu pedesaan kecil yang subur dan tenang. Di pedesaan tersebut tinggal lah seorang petani yang bernama Pak Slamet, Pak Slamet tinggal bersama istrinya. Mereka berdua mengelola sebuah peternakan kecil.

“Ini pakan bebek yang kemarin kamu pesan sudah datang Bu,” ucap Pak Slamet.

“Oh syukurlah, langsung bawa kesini saja Pak,” jawab Bu Slamet yang sedang memberi makan bebeknya.

Penghasilan mereka tidak besar, selain sayur mayur yang harga jualnya tak seberapa, mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari susu dan juga telur angsa. Semua hasil panen itu mereka jual ke pedagang di kota.

Walaupun mereka hidup dalam kesederhanaan, namun mereka tetap bahagia.

“Penjualan musim ini tidak banyak, jadi kita harus berhemat,” ucap Pak Slamet lirih.

“Iya Pak, akan aku atur supaya uang kita tetap cukup,” balas Bu Slamet.

Setiap hari senin Pak Slamet pergi ke kandang angsa untuk mengambil telur. Pagi ini ada sesuatu yang tak biasa diantara telur-telur angsanya. Pak Slamet pun penasaran dan segera mendekati kandang angsa. Ada satu telur yang tampak aneh, perlahan Pak Slamet mengambil telur tersebut. Ternyata itu adalah telur emas.

“Hah!? i-ini telur emas,” ucap Pak Slamet dengan nada yang kaget.

“Istriku! Istriku! Cepat kemari sebentar,” teriak Pak Slamet memanggil istrinya.

Bu Slamet yang sedang memetik sayuran pun langsung berlari ke arah kandang angsa.

“Apa? apa? ada apa? apakah angsa kita hilang atau telur kita dicuri orang?” tanya Bu Slamet dengan nafas yang terenggah-enggah.

“Tidak, bukan itu, lihatlah ini,” Pak Slamet memperlihatkan telur emas itu pada istrinya.

“Wah, apakah itu telur emas?” tanya Bu Slamet.

“Sepertinya begitu, angsa kita menghasilkan telur emas,”

“Mungkin itu ucapan terima kasih dari angsa, karena kita telah merawatnya dengan baik suamiku,” ucap Bu Slamet senang.

Mereka berdua sangat bahagia, dan berjanji akan merawat si angsa dengan lebih baik lagi. Setiap hari sang angsa menelurkan satu telur emas, hingga akhirnya dalam seminggu telah terkumpul 7 butir telur emas.

Pak Slamet pun membawa telur emas tersebut ke bank untuk di tukarkan dengan uang.

“Bagaimana mungkin ada telur yang terbuat dari emas,” ucap heran petugas bank.

Petugas bank tampak terheran-heran dengan telur emas tersebut.

“Bagaimana Pak? emas asli bukan?” tanya Pak Slamet.

“Ini semua emas asli Pak Slamet,” jawab petugas bank setelah memeriksa telur tersebut.

Akhirnya Pak Slamet mendapatkan uang hasil menukarkan telur emasnya.

“Istriku, istriku kemarilah lihat apa yang ku bawa,” teriak Pak Slamet yang berada di halaman rumah dengan membawa dua kantong berisikan uang hasil menukarakan telur tadi.

“Syukurlah kita sungguh beruntung, dapat rezeki yang berlebih Pak, sekarang kita bisa makan dengan enak,” ucap Bu Slamet senang.

“Tentu saja, kita juga bisa membeli pakaian baru,”

Mulai saat itu Pak Slamet pergi ke bank seminggu sekali, untuk menukarkan telur emasnya. Uang hasil penjualan telur itu mereka gunakan untuk memperbaiki rumah. Kini rumah mereka sangat besar dan mewah, selain itu mereka juga membeli beberapa sapi tambahan dan angsa. Sedikit demi sedikit peternakan mereka bertambah besar.

Dalam sekejap penampilan mereka berubah menjadi seperti orang kaya, pakaian mereka terlihat bagus dan mahal. Hal tersebut membuat tetangga terpanah sekaligus heran bagaiamna mungkin mereka menjadi kaya secepat itu.

Tak hanya penampilan, sifat mereka pun berubah menjadi serakah. Setiap hari mereka hanya memandang angsa berharap angsanya segera menelurkan telur emas.

“Bertelurlah yang banyak angsa,” perintah Bu Slamet.

“Iya, jadikan kami lebih kaya lagi,” ucap Pak Slamet.

Hingga suatu pagi, Pak Slamet hendak mengambil telur emasnya akan tetapi tidak ada satupun telur emas ditumpukan telur angsa pafa pagi itu.

“Hei! angsa kenapa hanya telur biasa saja, kemana telur emasmu,” ucap Pak Slamet marah.

“Awas kau, jika tidak ada telur emas besok pagi,”

Kejadian itu ternyata terus berlanjut, setelah 2 minggu berlalu tetap saja tidak ada telur emas di dalam kandang.

Hal tersebut membuat Pak Slamet murka.

Pak Slamet menatap sang angsa dengan wajah marah.

Pak Slamet marah dan mengejar si angsa yang tak lagi menelurkan telur emas tersebut. Sang angsa pun lari ketakutan dan meninggalkan peternakan Pak Slamet. Pak Slamet tertunduk lesu, meratapi angsanya yang telah pergi, itu artinya ia tidak akan lagi mendapatkan telur emas untuk ditukar dengan uang.

Lambat laun uang tabungan mereka mulai menipis dan akhirnya habis. Mereka pun kebali menjadi petani yang hidup sederhana.

 

Pesan Moral

Keserakahan tidak akan membuat kita sukses.

Selalu bersyukur terhadap apa yang kamu milik.

Bijaklah dalam menggunakan uang

 

NASIHAT SEEKOR TIKUS

(Karya Fitrotul Faizah)

 

 

Disuatu ketika disebuah hutan yang sangat lebat, ada seekor induk kucing dengan anaknya. Induk kucing itu sangat menyanyangi sekali kepada anaknya. Ia yang mencari makanan untuk anak-anaknya walaupun anaknya sudah mulai besar. Dan selalu bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka, induk kucing akhirnya menderita sakit. Induk kucing itu langsung memanggil anaknya. Dia memberitahu kepada anaknya bahwa ia sakit dan juga menyuruh anaknya agar belanja untuk mencari makanan.

 

Anak kucing yang suka manja sekali dan malas malasan itu malah keliru menerima nasihat ibunya. Dia merasa bahwa ibunya itu mengusir secara halus dan tidak sayang lagi kepadanya. Anak kucing itu langsung pergi meninggalkan induknya yang sudah tua dan juga sakit sakitan.

 

Anak kucing itu berjalan tak tau arah tujuannya. Suatu ketika ia mendongakkan kepalanya ke atas. Ia melihat sinar matahari dengan sinar yang sangat menyilaukan. Dia juga beranganangan bahwa ibunya matahari itu hidupnya tentu akan tenang dan tentram.

 

“Wahai, matahari yang menawan apa kamu mau mengambil aku sebagai anakmu?” katanya seru kepada matahari menawan itu.

 

“ Kenapa kamu ingin menjadi anakku?”

 

“Sebab aku ingin sekali menawan sepertimu.”

 

“ aku tidak selalu menang dan senang,dan tidak juga selalu menawan Masih ada juga yang bisa mengalahkanku.”

 

“Siapa itu?”

“Awan.

 

Mendengar jawaban matahari seperti itu, kucing itu sudah langsung kepikiran lagi. Mending kalau begitu awan saja yang akan menjadi induknya. “Awan apa engkau mau menjadi ibuku?”

 

“Kenapa?

 

“oh, kucing yang lucu. Masih ada juga yang bisa mmengalahkan aku di bumi ini.”

           

“Siapa dia?

           

“Angin! angin itu datang langsung menyerang, maka badanku akan tercerai berai. Aku yang akan diterbangkan entah kesana kemari sampai hancur lebur hingga menjadi air.”

 

Kucing itu terdiam sejenak saat mendengar keterangan awan. Ia juga berpikir pikir lagi. Setelah itu ia pergi kearah angin yang sangat kencang sekali.

           

“Angin, apa kamu mau juga menjadi ibuku?”

           

“Apa sebabnya kamu juga ingin menjadi anakku?”

 

“Karena kamu juga bebas kemana mana.”

 

“Jangan kamu pikir aku selalu senang. Akupun juga sering punya masalah dan hambatan juga,karena disini juga ada yang lebih hebat dari aku juga.”

 

“Siapa dia?” kucing itu langsung penasaran.

           

 “Bukit! Walaupun bebasnya aku gerak namun juga jika didepanku ada bukit, aku tidak bisa meneruskan perjalananku.”Mendengar ucapan kata angin itu, kucing tersebut segera pergi kearah yang tinggi.

 

Apa kamu mau juga mengangkat aku ini sebagai anakmu?”

 

“Apa yang sedang kamu harapkan dariku?”tanya bukit itu.

 

“Kamu gagah dan kuat. Aku ingin sekali seperti engkau?”

 

“Aku tidak lepas dari berbagai masalah. Masih ada yang sering mengganggu ketenanganku.”

 

“Benarkah? Siapa dia?”

 

“Kerbau.

 

Diapun langsung pergi kearah kerbau yang ditambatkan. Nafasnya sudah mulai tersenggal senggal tetapi juga ia tidak perduli. Akhirnya bertanya tanya kepada kerbau yang ternyata selama ini kerbau itu mengungkapkan bahwa rotan yang diikat itulah yang membuat hidupnya tidak senang.  Lalu kucing itu berlari kearah rumpun rotan. Menurut rotan, hidupnya pun tidak juga selalu tenang. Mendengar jawaban itu kucing itu bergegas segera pergi ke sebuah lubang, ditempat itu juga ada keluarganya tikus. Kucing itu mengutarakan maksudnya.

 

“Wahai tikus, apa kamu mau mengangkat aku sebagai anakmu juga?”

 

Induk tikus itu juga curiga, ada kucing yang ingin menjadi anak angkatnya.

 

“Apa tidak keliru sama sekali bicaramu itu?” tanya induk tikus waspada.”Tidak. Saya ini  berbicara sungguh-sungguh,”jawab kucing.” Hidup dihutan ini juga ada hewan-hewan yang  sering membunuh anak-anak kami yang sering menjadi santapannya.”

“Serius? Siapa binatang yang pemberani itu?”

“Kucing tua yang sangat ditakuti. Beberapa hari ini anak-anak kami bisa bermain-main

diluar. Kabarnya kucing betina itu sekarang mengalami sakit-sakitan. Apalagi anak satusatunya yang sangat disyangi meninggalkan dia.Kucing tua itu tampak menderita sekali.

Sementara anaknya yang selalu mencari kesenangan diluar sendiri, tak tahu terima kasih

kepada ibunya.”

Mendengar keterangan yang sangat panjang lebar itu, si kucing akhirnya terduduk lemas  sekali. Tidak terasa matanya yang berlinang. Ia merasakan bahwa rindu sekali kepada  ibunya. Dia merasa bahwa dirinya sangat berdosa terhadap ibunya. Tanpa mengingat lelah dia segera mencari ibunya. Ketika berjumpa denganya ternyata  ibunya tetap menerima dia dengan penuh rasa kasih sayang. Sejak saat itulah ia menjadi  kucing yang sangat rajin. Sekarang ia yang juga mecari makanan untuk ibunya. Dia tidak  akan lagi menjadi kucing yang manja-manja dan juga malas.

 

 

Si Ayam yang Sombong

(Karya Milati Kamila)

Pada suatu hari disuatu hutan belantara hiduplah seekor ayam yang bernama boni.Boni adalah ayam yang sangat populer dikalangan ayam lain di hutan tersebut. Suaranya saat berkokok dan badannya yang gagah membuat boni disukai banyak hewan lain dan membuat para ayam betina mengagumi kelebihan yang dimiliki oleh Boni. Selain itu boni juga terkenal sebagai ayam yang baik dihutan tersebut.

Disuatu pagi yang cerah ada suatu perlombaan antar ayam yang memiliki suara berkokok paling bagus. Si boni yang terkenal dengan suara berkokok yang khas nan merdu akhirnya berniat untuk mengikuti perlombaan tersebut.Perlombaan tersebut diikuti oleh sepuluh ekor ayam yang memiliki suara berkokok yang dianggap bagus. Setelah semua ayam mengikuti perlombaan tiba saatnya pada saat pengumuman hasil perlombaan.Juri perlombaan mengumumkan Boni adalah sang juara yang memiliki suara berkokok yang khas nan indah dibandingkan dengan sepuluh ekor ayam yang lain. Boni merasa sangat bahagia dapat menjadi juara perlombaan tersebut.Ayam lain mengucapkan selamat kepada boni atas kemenangannya,namun setelah perlombaan tersebut sikap si boni yang awalnya terkenal sebagai ayam yang baik berubah menjadi arogan dan sombong.Boni merasa dirinya unggul dibandingkan ayam lain karena memiliki suara berkokok yang indah dan badannya yang gagah,ia selalu memamerkan gelar kejuaraanya tersebut. Perbedaan sikapnya membuat ayam lain akhirnya banyak yang tidak menyukai si boni,namun boni tetap saja sombong dan selalu berpikir siapa yang tidak mau berkawan denganku si ayam dengan suara berkokok paling bagus di hutan ini. Ayam yang berada di hutan tersebut muak dengan kesombongan si Boni hingga akhirnya ada ayam lain yang juga memiliki suara berkokok yang bagus ayam itu bernama Ciko.

Pada suatu hari diadakan lagi perlombaan ayam dengan suara berkok paling indah. Si boni sangat semangat untuk mengikuti perlombaan itu. Perlombaan tersebut diikuti oleh lima belas ekor ayam. Si boni pemenang perlombaan kemarin sombong mengangap dirinya yang pasti akan juara pada perlombaan kali ini sambil ia meremehkan lawan lawannya. Pada saat perlombaan, tiba saatnya untuk Ciko berkokok, saat ciko mengeluarkan suara berkoknya semua orang langsung terpanah dengan suara berkokok ciko. Boni yang mendengarnya merasa begitu khawatir jika ciko akan merebut posisinya sebagai juara bertahan. Hingga pada saat pengumuman dibacakan ternyata Ciko lah yang memenangkan perlombaan kali ini. Ciko begitu bahagia namun ia tidak suka terlalu dipuji oleh ayam lain. Ciko tetap rendah hati dan berkawan dengan ayam lain. Boni yang kalah dalam perlombaan tersebut sedih dan membuat semua ayam meninggalkannya karena dia bukan lagi juara serta karena perilakunya yang sombong.

Boni akhirnya sadar bahwa dia selama ini telah sombong dan selalu meremehkan ayam lain. Boni sangat menyesali perbuatannya,ia meminta maaf kepada semua ayam yang berada dihutan tersebut. Ayam lain yang melihat ketulusan hati di boni dalam meminta maaf. Akhirnya mereka semua memafkan kesalahan boni dan berkawan baik kembali dengan boni.

Amanat yang dapat diambil dari kisah tersebut adalah kita tidak boleh sombong dengan kelebihan yang kita miliki dan tidak boleh menyepelekan orang lain.

 DRAMA ANAK

Slamet : Cuek

Bernard : Lucu, Sok Ke-Inggris-an

Princess : Manja

Catty : Sok Pemberani padahal Penakut

Albert : Ikut-ikut doang apa yang diinginkan temannya

PETAK UMPET DI RUMAH ANGKER

Di suatu antah berantah, terlihat lima anak yang duduk-duduk santai di depan rumah besar. Keempat anak tersebut bermain smartphone dan anak satunya hanya duduk-duduk melamun tidak ada kegiatan.anak tersebut pun mengajak teman-temannya untuk bermain bersama. Ya kali melamun sendirian, hehe.

Slamet : “Kok pada main smartphone semua sih. Bagaimana kalua kita main petak umpet aja”

Bernard : “Great.. Let’s go”

Princess : “Gak ah, nanti kotor”’

Bernard : “What? Kotor apanya, Princ? Playing petak umpet kok dirty?”

Princess : “Hah? Party?”

Bernard : “Dirty my dear. Dirty alias kotor”

Pricess ; “Oh Kotor… Maksudnya nanti ada yang main kotor gitu”

Albert : “Bener, bakalan ada yang bermain kotor”

Catty : “Udahlah santai aja, main petak umpet itu kan mudah, anak kelas 1 aja bisa”

Princess : “Bukan itu masalahnya, masalahnya kita udah gede, tapi masa main permainan anak kecil”

Albert : “Aku sudah besar tidak mau main petak umpet lagi”

Slamet : “Kita mainnya di tempat angker aja biar ekstrem”

Albert : “Apa lagi di tempat angker.. Ogah”

Princess : “Apa lagi di tempat angker. Kan biasanya tempat angker itu berdebu”

Bernard : “Come on.. Let’s just play.. Sebentar doang kok”

Slamet : “Jadi gimana nih?. Mau main atau kalian takut?”

Catty : “ Zaman gini takut sama hantu”

Bernard : “Sudahlah. Don’t waste any more time. Go”

Akhirnya mereka berlima pun bermain petak umpet di sebuah rumah tua yang katanya angker. Bernard yang merupakan kucing atau orang yang mencari pemain lainnya sudah menemukan 3 temannya. Hanya Slamet saja yang tidak ditemukan. Setelah beberapa saat mencari akhirnya mereka ber-4 sepakat untuk mencari Slamet bersama.

Catty :  “Gimana kalau si Slamet diumpetin hantu”

Bernard : “Oh Good. Let’s pray together”

Albert : “Apaan sih si Bernard ini. Malah bercanda. Bagaimana kalau memang benar si Slamet diumpetin hantu?”

Catty : “Haduh. Zaman gini masih percaya hantu He to the low Aaaaa!!” ( nunjuk )

Princess : “Ada apa?”

Catty : “A-ada ha-ha“

Bernard : “Hari Tanu ketua Perindo? What is this? Tolong explain”

Catty ( Geleng kepala ) : “Ha-ha-ha”

Albert : “Ha, hari-hari esok adalah milik kita, Persija jadi juara di liga” (malah jadi the jak)

Catty ( Geleng kepala ) : “Ha-ha-haacccciing!” ( bersin )

Catty : “Itu ada pesan kertas di atas meja” (nunjuk)

Albert ( Ngambil ) : “ Selamat tinggal. Itulah isi pesan ini”

Princess : “ Sepucuk kertas mencurigakan yang tergeletak begitu saja di atas meja. Aaapakah itu tulisan Slamet?”

Bernard : “Don’t Don’t Slamet sudah dibawa hantu”

Catty : “Apaan don’t-don’t?”

Bernard : “Jangan-jangan”

Catty : “Duh jadi atut”

Princess : “Udahlah. Ayo kita ke rumah Slamet. Ngomong sama orangtuanya”

Akhirnya setelah kejadian itu mereka pergi ke rumah Slamet dengan perasaan bersalah di pundak mereka. Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di rumah Slamet.

Princess : “ Assalammu’alaikum”

Slamet : “ Wa’alaikumsalam”

Catty : “ Loh kok Kamu gak mati?”

Slamet : “Karena Aku masih hidup”

Bernard : “Do you nulis this pesan?” ( Menunjukkan kertas yang tadi )

Slamet : “Ya. Itu selamat tinggal maksud Gue, Gue mau pergi ke rumah dulu tadi laper banget”

Catty : “Tuh kan. Di zaman dini masih percaya yang kayak gituan”

Albert : “Tapi Lu tadi juga takut”

Catty : “ Itu tadi cuman ekting”

Slamet : “Jadi, sekarang kalian mau apa?”

Princess : “ Pulang ajak yu” ( Pergi )

Akhirnya misteri pun terpecahkan dan mereka berlima dapat beristirahat dengan tenang.

ENSIKLOPEDIA ANAK

Komentar